(alfian fahmi/B01219006)
Definisi dan
ruang lingkup dakwah multikultural
A. pengertian dakwah dan multikultural serta dakwah multikultural
1. Dakwah
Makna kata dakwah secara istilah menurut beberapa ahli
adalah
A. Prof. Toha Yahya Oemar menyatakan bahwa
dakwah adalah upaya mengajak umat dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar
sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dunia dan akhirat.
B. Hamzah Ya‟qub menyatakan bahwa dakwah
adalah mengajak umat manusia dengan hikmah (kebijaksanaan) untuk mengikuti
petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
C. Prof. Dr. Hamka menyatakan bahwa dakwah
adalah seruan atau panggilan untuk menganut suatu pendirian yang pada dasarnya
berkonotasi positif dengan substansi terletak pada aktifitas yang memerintahkan
amar ma’ruf nahi munkar.[1]
Perintah Perintah dakwah secara baik dan lemah
lembut ini telah diperintahkan oleh Allah dalam Q.S An-Nahl: 125
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ
رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
2. Multikultural
Multikultural
berasal dari dua kata; multi (banyak/beragam) dan cultural (budaya/kebudayaan),
yang 19 secara etimologi berarti keberagaman budaya Multi artinya
banyak, sedangkan kulturalisme artinya aliran/ideologi budaya.
Multikulturalisme berarti pandangan yang mengakomodasi banyak aliran atau
ideology budaya. Multikulturalisme mengkonsepkan pandangan terhadap
keanekaragaman kehidupan di dunia, ataupun kebijakan kebudayaan yang menekankan
tentang penerimaan terhadap adanya keragaman, dan berbagai macam budaya di
dalam realitas masyarakat menyangkut nilai-nilai, sistem sosial, praktik
budaya, adat-kebiasaan, dan filosofi politik yang dianut dalam konteks
tertentu.[2]
Multikulturalisme
tidak bertujuan untuk menciptakan keseragaman ala monisme atau pun penciptaan
budaya universal ala pluralisme. Terkait
dengan hal tersebut Al-Qur’an sudah jelas menyatakan dalam surat Al-Hujurat
ayat 13 yang artinya “Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal.[3] Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Jadi, yang dimaksud dengan Dakwah
Multikultural adalah aktifitas menyeru kepada jalan Allah melalui usaha-usaha
mengetahui karakter budaya suatu masyarakat sebagai kunci utama untuk
memberikan pemahaman dan mengembangkan dakwah agar dapat tersampaikan dengan
tetap terpeliharanya situasi damai. [4]
3. Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi
lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang
yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang
berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical), kelompok
ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut komunikasi
lintas budaya. Menurut Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul
Komunikasi Antarbudaya, memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau
komunikasi lintas budaya sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling
efektif antar dua orang yang saling berbeda latar belakang budayanya.
Komunikasi Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan
pertukaran pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara
imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.[5]
B. Ruang Lingkup
Berkomunikasi merupakan kebutuhan yang fundamental
bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi tidak mungkin
masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin
dapat mengembangkan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat
hidup sendiri. Dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta
dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun
kelompok kecil
Daftar pustaka:
1.
Tata Sukayat, Quantum
Dakwah (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 2.
4.
Acep, Aripudin. Dakwah Antarbudaya.(Bandung : Rosda Karya : 2012) h.19
5.
Mohammad Shoelhi,Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media,
2015), hlm.2.